11th china education fair

Tiga Daya Tarik Kuliah ke China

Kompas.com - 29/11/2010, 15:31 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ada tiga hal yang membuat pelajar atau mahasiswa Indonesia tertarik melanjutkan kuliahnya di China, yaitu bahasa, biaya, dan kemajuan bisnis di Negeri Tirai Bambu tersebut. Beberapa universitas asal Eropa atau Amerika Serikat pun mulai buka "cabang" di China.

Demikian diungkapkan Ketua Pertukaran Mahasiswa dan Pengajar Asing Beijing Language & Culture Institute (BLCI), Samuel Wiyono, di sela acara 11th China Education Fair 2010, Minggu (28/11/2010), di Jakarta. Selain menawarkan pendidikan mulai dari belajar bahasa Mandarin, lanjut dia, China juga menawarkan program Diploma/Foundation dari Inggris atau Australia, hingga kuliah untuk gelar Sarjana (S-1) dan Pascasarjana (S-2) dalam berbagai bidang studi, baik dalam pengantar bahasa Mandarin atau bahasa Inggris.

"Bahasa Mandarin kini semakin populer dan keuntungannya adalah di China terdapat program pengantar menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa Mandarin dan Inggris, sementara di Eropa atau AS tidak ada pengantar Mandarin. Jadi, ada dua keuntungan sekaligus," ujar Samuel.

Kedua, dari segi biaya, China dinilai lebih menguntungkan karena lebih murah ketimbang ke Eropa atau AS. Samuel menuturkan, belum lagi perbedaan biaya hidup, karena negara-negara studi di Eropa atau AS tentu jauh lebih mahal.

Contohnya, lanjut Samuel, uang sekolah atau belajar bahasa Mandarin atau gelar sarjana (S-1) di universitas pemerintah/negeri dipatok mulai 12.000 RMB per tahun atau sekitar Rp 16,5 juta. Sementara untuk gelar S-1 menggunakan bahasa Inggris, biaya kuliah yang ditawarkan mulai 12,800 RMB per tahun atau sekitar Rp 17,2 juta.

“Lagipula, biaya tersebut tidak dengan syarat harus membayar uang pangkal atau uang gedung,” imbuhnya.

Bagi yang memeroleh universitas negeri juga lebih untung. Samuel mengatakan, ada subsidi biaya tinggal bagi mereka yang berhasil masuk di universitas negeri.

"Karena paling tidak ada lima universitas negeri yang menawarkan subsidi gratis asrama berbentuk hotel atau apartemen di lima kota besar China seperti Ningbo, Nanchang, Hefei, Suzhou, dan Nanjing untuk program tertentu. Ini tentu lebih hemat,” jelasnya.

Sementara itu, lanjut Samuel, daya tarik ketiga adalah kemajuan bisnis dan ekonomi China di kancah dunia. Kemapanan dan stabilitas ekonomi China saat ini setidaknya memberikan jaminan bagi para pelajar Internasional, bahwa murahnya biaya kuliah tidak tergoyahkan oleh krisis.

"Saat ini beberapa universitas di Eropa dan AS pun mulai membuka perwakilan kampusnya di China dan ini jadi lebih murah. Sementara dengan Indonesia, perayaan 60 tahun hubungan diplomatik RI-China jelas mengutungkan pelajar dalam hal birokrasi antarkedua negara, termasuk kerjasama beasiswa," imbuh Samuel. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau